oleh: * Ario Suryo Kusumo
“Dada dibelek, kemudian tulang dada digergaji menggunakan gergaji listrik!” Itulah jawaban favorit saya, setiap ditanya pengalaman menjalani operasi bypass
jantung, padahal ketika itu semua dilakukan saya sudah klenger, tak sadarkan diri karena
dibius total.
Anda penasaran “Gergaji listrik yang memotong tulang dada bentuknya seperti apa?”.
Ini Gambar ilustrasinya.
Ilustrasi Gergaji Listrik Yang Memotong Tulang
Dada
Awal Mula
Sejak enam tahun yang lalu (2014-an) setiap
kali melakukan aktifitas yang agak berat seperti berjalan kaki jauh, dada merasa tidak nyaman. Dan kadang-kadang terasa
sedikit nyeri pada dada sebelah kiri. Gejala tersebut saya konsultasikan ke Apoteker Next Door alias tetangga
sebelah yang Apoteker sekalian beli obat. Katanya “Mungkin itu gejala penyakit
jantung!” Kemudian saya di beri obat Isosorbit Dinitrat (merk lain farsorbit),
diminum kalau dada merasa tidak enak.
Dikemudian hari dokter sering menyebut ‘Obat dibawah lidah’,
karena mengangap orang awam sulit mengingat namanya.
Ketika masih muda salah satu hobi saya adalah makan
enak. Rumah makan padang: usus, cincang, rendang, bakwan udang dan gulai. Soto
betawi atau soto tangkar. Kikil, babat dan iso. Sate, gule, dan tongseng. Junk
food seperti hamburger, hoka-hoka bento dan sebagainya. Wah kalo ingat jadi ngeces! Itu deretan makanan favorit
saya yang enak tapi kadar kolesterolnya tinggi. Kolesterol yang saya konsumsi
menyebabkan adanya plak/timbunan kolesterol yang menumpuk di dinding arteri koroner yaitu pembuluh
darah yang menuju ke jantung sehingga arteri mengalami pengerasan, penyempitan dan penyumbatan. Karena
tugas arteri koroner adalah mengalirkan darah segar yang kaya oksigen dari jantung
ke otot jantung, akibatnya aliran darah menurun. Muncul gejala yang disebut angina yaitu nyeri dada akibat
terbatasnya pasokan darah yang kaya akan oksigen ke jantung.
Karena itu, sejak beberapa tahun terakhir,
secara rutin sebulan sekali saya kontrol ke poli singkatan dari poliklinik jantung
dan waktu itu di RS Esnawan Antariksa di Halim Jakarta Timur milik TNI AU dan
dokter yang menangani dr Wisnoe Pribadi Sp JP (Spesialis Jantung Dan Pembuluh
Darah). Sekitar awal bulan Desember
2019, dr Wisnoe menyarankan agar saya menjalani kateterisasi jantung dan saya
setuju. Karena fasilitas kateterisasi jantung belum ada di RS Halim maka saya
dirujuk ke RS tetangga yang punya yaitu RS Polri Soekanto, Kramat Jati Jakarta
Timur.
Kateterisasi jantung merupakan tindakan medis
yang dirancang untuk mengetahui kondisi kesehatan jantung dan mendekteksi
apakah terdapat masalah pada jantung Prosedur ini sering dilakukan untuk
mengevaluasi kondisi kesehatan seseorang yang sering mengalami sakit dada.
Sakit dada tersebut kemungkinan merupakan gejala penyakit jantung koroner. Prosedur
ini juga dilakukan untuk membantu dokter menemukan penyumbatan pada jantung.
Di poli Jantung RS Polri, saya diminta membuat
perjanjian dengan bagian Intervensi Kardiovaskuler (Cath Lab) dan hasilnya tanggal 17 Des 2019 akan menjalani prosedur
kateterisasi jantung dan perlu rawat inap 1 hari. Saya juga mendapat pesan
melalui secarik kertas dan whatsApp:
Obat pengencer darah dihentikan 3 hari sebelum prosedur. Obat pribadi harap
dibawa dan membawa pampers dewasa 2 buah.
Hari Selasa, tanggal 17 Des 2019 pagi menjelang siang, saya dibawa
dari poli jantung ke kedalam ruang perawatan yang disebut HCU (Heart Care Unit) atau unit perawatan jantung. Sesuai namanya khusus
merawat pasien berpenyakit jantung.
Sebetulnya ada aturan tidak boleh mengambil
foto dalam HCU. Tapi itu kalau ketahuan! Jadi ketika perawat tidak melihat, saya
mengambil foto secara diam-diam, nyolong.
Ruangan HCU
berbentuk aula besar dan perawat berada
di dalam. Disebelah kanan tempat perawat
terdapat kamar mandi. Terdapat delapan bed. Kalau pasien perlu privasi
seperti kencing, tempat tidur ditutup dengan tirai. Pasiennya campur antara pria
dan wanita. Tiap pasien mendapat monitor yang menampilkan tekanan darah, detak
jantung dan sebagainya.
Ruang HCU RS Polri Bagian Dalam
Pakaian saya diganti
dengan seragam dari rumah sakit, mirip rok dengan panjang di atas lutut dan tali
di bagian punggung. Seragam, selimut dan seperai di ganti tiap hari.
Pakaian Seragam Rumah Sakit
Kemudian pada dada saya dipasang alat yang terhubung ke monitor jantung. Dipakaikan infus. Selain itu juga menandatangani dokumen-dokumen yang diperlukan. Dari perawat saya memperoleh informasi jika kondisi terpenuhi maka bisa langsung dipasang ring jantung. Misalnya sumbatan jantung mencapai 60-70%. Oh ya, saya belum pernah memakai ring jantung.
Ada empat orang yang menjalani kateterisasi
jantung dan saya mendapat giliran ke tiga. Sekitar pukul 21:30 tiba giliran
saya. Menggunakan kursi roda saya dibawa dari ruang HCU ke ruang Intervensi
Kardiovaskuler. Peralatan di dalamnya sama persis dengan Gambar ilustrasi,
hanya ruangannya lebih besar dari Gambar.
Juga terdapat tirai yang menutupi antara tangan kanan saya dengan
peralatan yang dimasukkan ke dalam tubuh. Prosedur pertama yang saya terima
adalah di suntik bius lokal. Jadi saya masih sadar, bisa celingukan terutama untuk melihat monitor, dan tidak sakit ketika
peralatan kateterisasi dimasukkan ke tubuh.

Ilustrasi Peralatan Kateterisasi
Selanjutnya di atas telapak tangan
kanan saya dimasukkan peralatan kateterisasi yang akan berjalan melalui aliran
darah menuju ke jantung. Bagian sinar X
digeser-geser disesuaikan dengan gambar yang ingin dilihat. Prosedur kateterisasi tidak begitu lama. Terakhir, Untuk menutup
luka tangan dibebat menggunakan kayu
karena peralatan kateterisasi dimasukan ke pembuluh darah besar.
Gejala
Penyakit Jantung
Ketika berbincang dengan pasien jantung lain,
saya sering menanyakan gejala yang mereka alami. Katanya “Nyeri dada berat!“
atau “Dada terasa dihimpit dengan benda berat”. Lainnya “Dada terasa seperti ditindih
pintu!”. Lain lagi “Dada terasa dihimpit dengan benda
berat kemudian sakitnya menjalar kepunggung” “…menjalar ke tangan” dan
sebagainya.
Pikir saya “He he he mereka sudah terkena penyakit jantung berat sedangkan gejala saya
cuma nyeri dada sedikit sehingga saya
hanya terkena penyakit jantung ringan!” Apakah pikiran saya benar? Ternyata SALAH, justru saya yang terkena
penyakit jantung berat! Terbukti dari hasil kateterisasi jantung.
Hasil Kateterisasi
Keesokan harinya pada, rabu tanggal 18 Des 2019 pagi,
bersama visit dokter
jantung dr Supono Sp JP ke ruang HCU dibagikan hasil kateterisasi. Di sudut
kanan atas map hasil kateterisasi dan map rekam medik saya ditempeli stiker kuning bertuliskan CABG.
Hasil kateterisasi jantung terdiri dari 2
halaman seperti Gambar di atas. Pertama diberi judul “Hasil Koroner Angiogram”.
Terlihat gambar jantung dengan arteri
yang memasok darah ke jantung. Arsiran tebal menunjukkan adanya sumbatan pada arteri jantung. Dapat dilihat keterangan
sumbatannya sebesar 80-90%. Dan lebih dari satu arteri yang tersumbat.
Kesimpulan di sudut kiri bawah adalah CAD3VD. CAD
(Coronary Artery Disease) dan 3VD (Three Vessel Disease). Artinya adanya
penyakit pada arteri koroner dan memiliki sumbatan di 3 pembuluh darah arteri.
Kedua merupakan gambar sebenarnya dari jantung.
Terlihat adanya penebalan pada arteri
yang mengindikasikan adanya sumbatan.
Kembali ke stiker CABG. Ini berarti dokter
jantung RS Polri menyarankan operasi bypass jantung atau istilah medisnya CABG
(Coronary Artery Bypass Graft) atau cangkok pintas arteri
koroner.
Dari studi pustaka dapat diketahui operasi bypass jantung disarankan bagi penderita jantung koroner dengan kondisi sebagai berikut:
- Lebih dari satu pembuluh darah mengalami penyempitan, sehingga bilik jantung kiri tidak berfungsi secara normal. Bilik jantung kiri merupakan ruangan jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh.
- Arteri koroner kiri utama (left main artery) yang bertugas memasok darah ke bilik kiri mengalami penyempitan dan penyumbatan berat.
- Mengalami penyumbatan pembuluh arteri yang tidak bisa ditangani dengan pemasangan ring. Kalau sumbatannya dibawah 70% masih bisa memakai ring tapi kalau 80-90% tidak bisa.
Kata dr Supono “Tingkat keberhasilan operasi
CABG di RS Polri tinggi: 99%.” Pikir saya dengan sedih “Berarti yang 1% telah
menghadap Yang Kuasa!”
Operasi CABG adalah prosedur pembedahan yang bertujuan
untuk menghilangkan penyumbatan arteri koroner dan memaksimalkan aliran
pembuluh darah. Caranya membuat saluran baru melewati arteri koroner yang
mengalami penyumbatan melalui pencangkokan pembuluh darah lain.

Operasi CABG
Persiapan Operasi CABG
Hampir 1 ½ bulan saya mondar mandir (sudah kayak
setrikaan) ke RS Polri guna menjalani persiapan untuk CABG. Baik melakukan pemeriksaan
maupun konsul ke dokter spesialis lain.
Tiga hari kemudian saya ke poli Jantung di RS
Polri lagi dan menemui dr. Dewi Maria Ulfa, B.Med SC. Sp. JP. Kata beliau “Kondisi Anda ibaratnya
seperti orang yang membawa bom waktu, setiap saat bisa meledak dan berakibat
fatal!”
Pikir saya ngeri “Seumur hidup saya belum
pernah kolaps atau mengalami serangan jantung. Tetapi begitu mendapat serangan mungkin wes ewes ewes bablas nyawane!, lagi menghadap Yang Kuasa!”
Lanjut Dr Dewi “Untuk operasi CABG perlu konsul
ke poli syaraf, poli THT, poli paru, poli dalam dan poli gigi. Poli paru membawa hasil rotgen dada. Untuk
konsul urutannya bebas tetapi saya sarankan poli gigi diletakkan pada urutan
terakhir karena biasanya pertemuannya
lebih dari satu kali.“
Saya bertanya “Apakah bisa dalam satu hari
konsul ke dua poli?”
Jawab Dr Dewi “Tanya ke
bagian pendaftaran.”
Belakangan ketika bertanya pada bagian pendaftaran
“Kalau BPJS hanya boleh 1 poli dalam
satu hari tapi kalau membayar sendiri, boleh lebih dari 1 poli”. Ternyata ini telah diatur dalam peraturan
BPJS.
Konsul kepanjangnya adalah konsultasi. Ini
definisi dengan kata-kata saya sendiri yaitu meminta persetujuan dokter
spesialis lain bahwa pasien diijinkan untuk menjalani operasi CABG karena tidak
ada kondisi yang memberatkan.
Konsul dan pemeriksaan saya lakukan dengan anjay eh maaf maksudnya santuy aja, biar tidak terlalu capek.
Dalam seminggu datang ke RS Polri dua kali.
Dan ternyata kata dr Dewi betul untuk poli gigi menghabiskan waktu
paling banyak yaitu 3 minggu untuk 6 pertemuan. Ada 5 gigi geraham atas yang
dicabut. Satu pertemuan untuk satu gigi yang dicabut. Dan di pertemuan terakhir
dilakukan pembersihan karang gigi.
Syarat operasi CABG saya rangkum dalam skema
berikut:
Syarat Operasi CABG
Pemeriksaan EKG (Electrocardiogram)
Pemeriksaan ini akan menunjukkan seberapa kuat
jantung berdetak dan keteraturan ritme, apakah stabil atau tidak. EKG adalah
pemeriksaan sederhana yang menunjukkan aktivitas kelistrikan jantung. Melalui
pemeriksaan EKG akan diketahui seberapa cepat waktu yang ditempuh oleh aliran
listrik saat menjelajahi setiap bagian jantung. EKG juga bisa digunakan untuk memeriksa jika
terdapat kerusakan pada jantung.
Tiap kali berkunjung ke poli jantung RS Polri, biasanya
ada pemeriksaan EKG.
Echocardiogafi
Melalui tes ini, dokter bisa mengetahui ukuran
dan bentuk jantung pasien, termasuk kondisi bilik dan katup. Cara kerja alat
ini adalah dengan memanfaatkan gelombang suara menghasilkan gambar bergerak
dari jantung. Echocardiografi juga bisa memetakan
daerah aliran darah yang jelek menuju jantung, otot jantung yang manakah yang tidak normal, atau cedera pada otot jantung yang
disebabkan oleh aliran darah yang buruk di masa lalu.
Di ruang 1 poli Jantung tedapat alat Echocardiografi sehingga saya hari itu juga
diperiksa.
Singkat waktu satu setengah bulan kemudian, setelah
semua syarat terpenuhi maka langkah berikutnya adalah penentuan tanggal operasi
CABG. dr Dewi meminta saya menunggu pesan WhatsApp dari ruang HCU. Setelah
semingguan masuk pesan “Operasi CABG akan dilakukan tanggal 19 Peb 2020 dan
masuk rumah sakit pada tanggal 18 Peb 2020 siang. Obat pengencer darah
dihentikan 5 hari sebelum operasi”
Operasi
CABG
Hari
Pertama
Selasa tanggal 18 Peb 2020 siang, saya dibawa dari poli jantung ke kedalam ruang perawatan HCU.
Terasa familiar karena saya pernah menginap sebelumnya waktu kateterisasi
jantung.
Hari pertama adalah masa orientasi. Pada sore hari
diambil darah untuk cek laboratorium. Pada dada dipasang alat yang terhubung ke
monitor jantung.
Pakaian saya diganti dengan seragam dari rumah
sakit dan selama 7 hari di ganti tiap hari.
Anggota keluarga menerima pesan wa untuk
menyiapkan: Pisau cukur 3 buah, pampers dewasa 1 boks, air aqua 1,5 liter
sebanyak 3 buah. Sabun mandi cair, bantal kecil, minyak kayu putih, waslap dan
perlengkapan pribadi seperti handuk dan sikat gigi.
Juga diminta menghubungi PMI terdekat karena
membutuhkan satu kantong darah.
Hari
Kedua
Rabu Tanggal 19 Peb 2020 merupakan hari yang sibuk untuk
persiapan dan pelaksanaan operasi.
Pagi hari mendapat kunjungan dari dr Arinto
Bono Adji SpBTKV(K) spesialis bedah thorak kardiak vaskuler yang berasal dari
Rumah jantung terbesar di Indonesia, RS Harapan Kita Jakarta. Jadi untuk
melakukan operasi bypass jantung dokternya spesialis bedah thorak dan by the way, ngomong-omong sekolahnya
lebih lama dari dokter spesialis lainya. Kalau spesialis lain umumnya 4
semester dari dokter umum. Sedang spesialis bedah thorak 10 semester alias 5 tahun.
Sambil beramah tamah saya mengajukan pertanyaan
yang bermutu dikit “Teknologi
pembedahan apa yang akan digunakan apakah on-pump atau off-pump?”
Jawab dr Bono “Kita sudah menggunakan teknologi
off-pump sehingga tidak perlu mesin bypass
jantung-paru”
Pada on-pump, selama operasi, jantung akan
berhenti berfungsi dan digantikan oleh mesin bypass jantung-paru untuk
mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Sedangkan prosedur operasi bypass baru yang
dikenal dengan sebutan off-pump, mesin bypass tidak digunakan. Jantung pasien
diperbaiki saat masih berdetak.
Sebetulnya saya juga ingin bertanya apakah
gergaji listrik yang digunakan bentuknya seperti Gambar di depan, tetapi
karena waktu itu gambar ada di hp, sedang hp sedang dicas diluar, maka tidak
jadi.
Setengah jam
kemudian saya mendapat kunjungan dari dr Yudi Hadinata Sp An KAKV,
spesialis anestasi kardiovaskuler, yang bertanggung jawab untuk pembiusan.
Beliau meminta saya membuka mulut untuk memeriksa gigi.
Siang hari mulai puasa. Perut dikuras
menggunakan obat pencahar dan dilakukan dua kali siang dan sore hari.
Sore rambut dicukur pada bagian kaki, tangan,
dada, ketiak dan kemaluan. Pada waktu mandi sore hari disekitar dada diberi zat
disinfektan Chlorhexidine 70 %. Terasa agak perih.
Seperti biasanya juga menandatangani
dokumen-dokumen yang diperlukan.
Pada jam 18:30 menggunakan kursi roda diantar
ke ruang operasi.

Ilustrasi
Suasana Ruang Operasi
Umumnya operasi CABG berlangsung selama 3-6
jam. Dan operasi saya menurut
dokumen Laporan Operasi dilakukan jam 18:40 sampai 22:10. Memakan waktu 3 jam 30
menit.
Ketika masuk ruang operasi terlihat tim dokter
dan perawat menggunakan pakaian operasi hijau tua. Peralatan yang digunakan
tidak terlihat karena masih ditutupi
dengan kain hijau tua. dr Bono menemui saya kemudian dilanjutkan dengan dr
Yudi, yang memasukkan selang bius melalui infus dari tangan kiri. Selanjutnya dipakaikan
masker oksigen untuk bius. Saya dibius total dan segera tak sadarkan diri.
Dan ketika sadar, saya sudah berada diruang
ICU. Karena itu untuk merekonstruksi proses yang terjadi selama saya tak
sadarkan diri akan saya ambil dari dokumen Laporan Operasi dan tinjauan
pustaka. Dari situs Web myheart.net terdapat artikel “Heart Bypass Surgery Explained In Incredible Pictures” yang ditulis
oleh dr Mustafa Ahmed yang saya ambil sebagai rujukan.
Dari dokumen Laporan Operasi,Diagnosis
pre-operatif dan post-operatif: CAD3VD Nama/Macam
Operasi: OPCAB x3. Artinya Off-Pump Coronary Artery Bypass. x3 berarti ada 3 pembuluh darah
yang akan dicangkok.
Jalannya Operasi
Memotong
Kulit Sampai Tulang Dada
Langkah pertama operasi bypass
jantung adalah memotong kulit pada dinding dada untuk menampilkan tulang dada.
Alat yang digunakan adalah scalpel
atau pisau listrik. Pisau listrik akan memotong lapisan superficial (tidak
dalam) kemudian ke lapisan yang lebih dalam sampai tulang dada.
Memotong Kulit Sampai Tulang
Dada
Mengergaji
Untuk Membuka Tulang Dada
Operasi bypass jantung adalah operasi jantung
terbuka sehingga jantung perlu diekspos. Dalam kasus ini operasi bypass
dilakukan dengan menggergaji melalui tulang dada dalam teknik yang dikenal
sebagai sternotomy median. Gergaji listrik dirancang khusus digunakan untuk
ini.

Mengergaji Tulang Dada
Mengambil Vena Tungkai
Pembuluh darah yang digunakan sebagai cangkokan bisa diambil dari dada (arteri mamaria interna),
tungkai kaki (vena safena), atau pergelangan tangan (arteri radialis). Pada
saya diambil dari tungkai kanan dan kiri istilahnya SVG (Saphenous Vein Grafts) atau cangkokan vena safena.
Teknik pengambilan vena yang digunakan dalam Gambar berbeda dengan yang saya
alami. Terlihat dari luka bekas operasinya.
Membentangan Tulang
Dada
Suatu retractor (alat pembentang) kemudian ditempatkan untuk menahan
bagian tepi untuk membuat daerah kerja.
Membentangkan Dada
Menyiapkan Jantung
Untuk Bypass
Heparin untuk pengencer darah diberikan guna
mencegah terjadinya pembekuan darah. Menyiapkan vena yang akan
digunakan dalam bypass.
Menyiapkan Vena
Melekatkan Bypass
Arteri tersumbat yang akan dilakukan
bypass secara hati-hati diamati. Kemudian cangkokan bypass akan
dilekatkan.
Secara OPCAB/off-pump, jantung pasien diperbaiki saat masih berdetak,
dilakukan cangkokan. Ada tiga cangkokan yaitu:
- LIMA (Left Internal Mammary Artery) ke LAD (Left Anterior Descending).
- SVG ke PDA
- SVG
ke OM2
Masing-masing proksimal SVG
ditransformasikan ke pangkal aorta Ascendent
|
Bagian diatas saya kutip dari tulisan tangan dr Bono di Laporan Operasi.
Jadi SVG
ke PDA artinya pembuluh darah cangkokan ujung satu ditempelkan pada pangkal
aorta Ascendent dan ujung lainnya ditempelkan pada PDA (Patent
Ductus Arteriosus)
Sedang SVG ke OM2 artinya pembuluh darah cangkokan ujung satu ditempelkan
pada pangkal aorta Ascendent dan ujung lainnya ditempelkan pada OM2 (second Obtuse Marginal branch, cabang marginal tumpul kedua)
Ujung pembuluh darah cangkokan dijahit pada
tempat menempel seperti pada Gambar ilustrasi di atas. Nylimet!
Ekspos Arteri Tersumbat Dan
Melekatkan Bypass
Jantung Berdetak
Dengan Bypass Dilekatkan
Menjahit Tulang Dada, Menutup Kulit Dan Membuat Selang
Dada
Sternum (tulang dada) dijahit dengan
kawat baja. Luka operasi ditutup lapis demi lapis. Dibuat saluran pembuangan berupa selang
dada untuk membuang sisa darah operasi. Pada Gambar dibuat 2 selang dada kiri
dan kanan. Pada saya hanya ada 1 selang dada ditengah.

Menjahit Tulang Dada, Menutup Kulit
Dan Membuat Selang Dada
Hari Ketiga Dan
Keempat
Menurut catatan perawat saya
dipindah dari ruang operasi ke ICU (intensive Care Unit, Ruang Perawatan
Intensif), hari
rabu tanggal 19 Peb jam 22:30.
Ilustrasi Di Ruang ICU
Ruang ICU berbentuk aula dengan
pintu utama terhubung langsung dengan ruang operasi. Terdapat 4 bed dan monitor
jantung yang lebih besar dan bagus daripada ruang HCU. Di depan kiri terdapat
tempat untuk perawat dan disebelah kanan
untuk menyimpan peralatan misalnya rotgen dada dan Echocardiografi. Selama di
ICU pasien tidak boleh dijenguk. Pada jam bezuk, pasien dapat dilihat melalui
jendela yang dibuka kerainya.
Kamis, tanggal 20 Feb, s
ekitar jam 2 pagi saya mulai sadar. Ada empat macam infus yang dimasukkan ke
tubuh. Terpasang monitor jantung. Terdapat selang dada untuk membuang darah
sisa operasi. Untuk bernafas dibantu dengan alat bantu pernafasan berupa selang
oksigen. Dipasang kateter ginjal untuk
kencing. Bekas operasi di dada ditutupi dengan semacam tensoplast besar.
Saya sadar tapi terasa mengantuk
berat. Ini pengaruh dari obat pereda rasa sakit yang diberikan setelah operasi
yaitu morfin. Betul! saudaranya ganja dan heroin, tentu saja, morfin yang
digunakan untuk medis.
Paginya setelah dibersihkan saya
SABU. Sarapan bubur.
Terasa seperti pasien VIP ala BPJS
karena saya satu-satunya pasien ditengah 4 perawat. Ada satu perawat yang
menarik perhatian saya karena seragamnya beda. Ketika saya tanya dia berasal dari RS Harkit (Harapan
Kita).
Kata saya “Sebetulnya saya tertarik
untuk operasi CABG di Harkit, tapi karena pasien Harkit dari seluruh Indonesia,
saya khawatir dengan waktu tunggu yang lama, katanya bisa berbulan-bulan!”
Balas perawat tersebut “Di Harkit
terdapat 12 ruang operasi dan satu hari biasanya melakukan 14 operasi CABG!”. Waah rame!
Siang menjelang sore saya mendapat
visit dr Dewi. Kata dr Dewi “Karena kondisinya bagus, maka besok bisa kembali
ke ruang HCU”. Setelah mengecek selang dada “Darah sudah berhenti mengalir,
besok selang dada bisa dicabut”.
Menggunakan alat Echocardiografi, dr
Dewi mencoba melihat jantung.
Katanya “Jantung tidak terlihat
dengan jelas karena masih ditutupi darah”.
Jumat tanggal 21
Pebruari 2020, hari kedua diruang ICU. Selang Infus dicopot. Siang hari datang dokter, maaf saya lupa namanya, panggil saja dr X. dr
X ini berasal dari RS Polri dan
mengaku asisten dr Bono. Pria agak
gemuk ini akan mengambil selang dada. Disekitar lubang untuk selang dada diolesi
dengan betadine lalu disuntik bius lokal. Kemudian selang dada dicabut. Kata dr
X “Benang yang ada tidak perlu dicabut karena akan menyatu dengan daging”.
Sore harinya datang operator rotgen
dada. Dulu saya pikir kalau dirotgen dada berarti dibawa dengan kursi roda ke
ruang Radiologi yang agak jauh. Ternyata ruang ICU sudah punya peralatan rotgen
dada sehingga tinggal memanggil operatornya. Dada dirotgen. Petugas
Fisioterapi datang untuk
mengamati.
Hari Kelima Sampai Ketujuh
Jumat tanggal 21 Pebruari 2020, sore hari saya dipindahkan dari ruang ICU ke ruang HCU. Kembali ke bed yang sama sebelum operasi dipojok
kanan bawah.
Tubuh terasa sulit digerakkan.
Belajar memiringkan dan mengangkat
badan. Kaki dipakaikan stocking. Tiap
hari luka bekas operasi dirawat.
Pada hari terakhir, selasa tanggal 25 Feb 2020, petugas Fisioterapi meminta saya
jalan bolak balik di ruang HCU selama 10x. Di dokumen istilahnya “Six minute walk test” dengan jarak sekitar 107
meter. Tidak ada
masalah. kateter ginjal diambil. Sore menjelang malam diperbolehkan
pulang.
Biaya
Sobat missqueen mungkin bertanya dengan
cemas bagaimana dengan biayanya? Di
situs Web aldodokter.com disebut biaya Kateterisasi
jantung berkisar 9-50 Juta. Sedang operasi bypass jantung di rumah sakit swasta
di Indonesia dimulai 150 juta, Thailand 270 juta dan Singapura 500 juta. Jangan
khawatir, pada prinsipnya semua baik kateterisasi jantung dan operasi bypass
biayanya dicover oleh BPJS. BPJS saya gratis alias tidak perlu membayar iuran bulanan
karena tipe BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran). Siapa yang menanggung biaya?
APBD DKI. Provinsi paling kaya se Indonesia gitu lho!
Penutup
Sebetulnya tubuh memberi isyarat ke
kita ketika mengalami suatu penyakit. Seperti pada penyakit jantung : Dada
merasa tidak nyaman, nyeri didada atau sesak nafas. Jika Anda mengalami hal tersebut jangan
diabaikan segeralah periksa kedokter.
Operasi bypass jantung melalui tiga tahap:
Persiapan operasi, operasi dan pemulihan. Pada masa pemulihan, setelah
pulang kerumah kurang lebih selama 2
bulan, jangan mengangkat beban yang berat, lebih dari 10 kg.
Apakah operasi bypass jantung sakit?
Saya tahu banyak calon pasien yang ketakutan dengan rasa sakit yang akan
dialami. Dada dibelek, tulang dada digergaji dan jantung diobok-obok tentu
saja sakit!. Tapi dokter akan mengurangi rasa sakit yang
dialami pasien dengan dua cara. Pertama dengan pembiusan,
baik bius total maupun bius lokal. Saya
dibius total ketika dioperasi CABG dan bius lokal pada waktu
kateterisasi jantung, tiap kali gigi dicabut dan waktu selang dada diambil. Kedua
minum obat pereda sakit, setelah operasi
diberi obat pereda sakit berat yaitu morfin, berikutnya sehari tiga kali
saya minum obat paracetamol. Sedang
dari dokter gigi diberi ponstan.
Kalau rasa sakit diberi skala
penilaian dari 0 sampai 10 dimana 0 tidak sakit sama sekali dan 10 sakit berat
tak tertahankan, pastikan rasa sakit yang dialami skala tiga atau kurang.
Alhamdulillah, Puji Tuhan saya belum pernah mengalami rasa sakit yang berat jadi masih skala 3 atau kurang
sehingga masih bisa menanggungnya.
Ucapan terima kasih yang tulus untuk
semua dokter, perawat, paramedis dan staf yang telah berperan dalam operasi
saya khususnya dr Arinto Bono Adji yang telah
menjalankan operasi dengan sukses.
*Ario Suryo Kusumo
Praktisi TI, pernah jadi guru Biologi SMA.
oooOOOooo