Sabtu, 31 Oktober 2020

Pengalaman Menjalani Operasi Bypass Jantung

 oleh: * Ario Suryo Kusumo


“Dada dibelek, kemudian tulang dada digergaji menggunakan gergaji listrik!” Itulah jawaban favorit saya, setiap ditanya pengalaman menjalani operasi bypass jantung, padahal ketika itu  semua dilakukan saya sudah klenger, tak sadarkan diri karena dibius total.

Anda penasaran “Gergaji listrik yang memotong tulang dada bentuknya seperti apa?”.
Ini Gambar ilustrasinya.

Ilustrasi Gergaji Listrik Yang Memotong Tulang Dada


Awal Mula
Sejak enam tahun yang lalu (2014-an) setiap kali melakukan aktifitas yang agak berat seperti berjalan kaki jauh, dada merasa tidak nyaman. Dan kadang-kadang terasa sedikit nyeri pada dada sebelah kiri. Gejala tersebut saya konsultasikan ke Apoteker Next Door alias tetangga sebelah yang Apoteker sekalian beli obat. Katanya “Mungkin itu gejala penyakit jantung!” Kemudian saya di beri obat Isosorbit Dinitrat (merk lain farsorbit), diminum kalau  dada merasa tidak enak. Dikemudian hari dokter  sering menyebut ‘Obat dibawah lidah’, karena mengangap orang awam sulit mengingat namanya. 
Ketika masih muda salah satu hobi saya adalah makan enak. Rumah makan padang: usus, cincang, rendang, bakwan udang dan gulai. Soto betawi atau soto tangkar. Kikil, babat dan iso. Sate, gule, dan tongseng. Junk food seperti hamburger, hoka-hoka bento dan sebagainya. Wah kalo ingat jadi ngeces! Itu deretan makanan favorit saya yang enak tapi kadar kolesterolnya tinggi. Kolesterol yang saya konsumsi menyebabkan adanya plak/timbunan kolesterol yang menumpuk di dinding arteri koroner yaitu pembuluh darah yang menuju ke jantung sehingga arteri mengalami pengerasan, penyempitan dan penyumbatan. Karena tugas arteri koroner adalah mengalirkan darah segar yang kaya oksigen dari jantung ke otot jantung, akibatnya aliran darah menurun. Muncul gejala yang disebut angina yaitu nyeri dada akibat terbatasnya pasokan darah yang kaya akan oksigen ke jantung.

Karena itu, sejak beberapa tahun terakhir, secara rutin sebulan sekali saya kontrol ke poli singkatan dari poliklinik jantung dan waktu itu di RS Esnawan Antariksa di Halim Jakarta Timur milik TNI AU dan dokter yang menangani dr Wisnoe Pribadi Sp JP (Spesialis Jantung Dan Pembuluh Darah).   Sekitar awal bulan Desember 2019, dr Wisnoe menyarankan agar saya menjalani kateterisasi jantung dan saya setuju. Karena fasilitas kateterisasi jantung belum ada di RS Halim maka saya dirujuk ke RS tetangga yang punya yaitu RS Polri Soekanto, Kramat Jati Jakarta Timur.   

“Cathy” Alias Kateterisasi Jantung

Kateterisasi jantung merupakan tindakan medis yang dirancang untuk mengetahui kondisi kesehatan jantung dan mendekteksi apakah terdapat masalah pada jantung  Prosedur ini sering dilakukan untuk mengevaluasi kondisi kesehatan seseorang yang sering mengalami sakit dada. Sakit dada tersebut kemungkinan merupakan gejala penyakit jantung koroner. Prosedur ini juga dilakukan untuk membantu dokter menemukan penyumbatan pada jantung.

Di poli Jantung RS Polri, saya diminta membuat perjanjian dengan bagian Intervensi Kardiovaskuler (Cath Lab) dan hasilnya tanggal 17 Des 2019 akan menjalani prosedur kateterisasi jantung dan perlu rawat inap 1 hari. Saya juga mendapat pesan melalui secarik kertas dan  whatsApp: Obat pengencer darah dihentikan 3 hari sebelum prosedur. Obat pribadi harap dibawa dan membawa pampers dewasa 2 buah.

Hari Selasa, tanggal 17 Des 2019 pagi menjelang siang, saya dibawa dari poli jantung ke kedalam ruang perawatan yang disebut HCU (Heart Care Unit)  atau unit perawatan jantung. Sesuai namanya khusus merawat pasien berpenyakit jantung.


Sebetulnya ada aturan tidak boleh mengambil foto dalam HCU. Tapi itu kalau ketahuan! Jadi ketika perawat tidak melihat, saya mengambil foto secara diam-diam, nyolong.
Ruangan HCU  berbentuk aula besar dan perawat  berada di dalam.  Disebelah kanan tempat perawat terdapat kamar mandi. Terdapat delapan bed. Kalau pasien perlu privasi seperti kencing, tempat tidur ditutup dengan tirai. Pasiennya campur antara pria dan wanita. Tiap pasien mendapat monitor yang menampilkan tekanan darah, detak jantung dan sebagainya.

Ruang HCU RS Polri Bagian Dalam 

Pakaian saya diganti dengan seragam dari rumah sakit, mirip rok dengan panjang di atas lutut dan tali di bagian punggung. Seragam, selimut dan seperai di ganti tiap hari.  

Pakaian Seragam Rumah Sakit 

Kemudian pada dada saya dipasang alat yang terhubung ke monitor jantung. Dipakaikan infus. Selain itu juga menandatangani dokumen-dokumen yang diperlukan. Dari perawat saya memperoleh informasi jika kondisi terpenuhi maka bisa langsung dipasang ring jantung. Misalnya sumbatan jantung mencapai 60-70%. Oh ya, saya belum pernah memakai ring jantung.

Ada empat orang yang menjalani kateterisasi jantung dan saya mendapat giliran ke tiga. Sekitar pukul 21:30 tiba giliran saya. Menggunakan kursi roda saya dibawa dari ruang HCU ke ruang Intervensi Kardiovaskuler. Peralatan di dalamnya sama persis dengan Gambar ilustrasi, hanya ruangannya lebih besar dari Gambar.   Juga terdapat tirai yang menutupi antara tangan kanan saya dengan peralatan yang dimasukkan ke dalam tubuh. Prosedur pertama yang saya terima adalah di suntik bius lokal. Jadi saya masih sadar, bisa celingukan terutama untuk melihat monitor, dan tidak sakit ketika peralatan kateterisasi dimasukkan ke tubuh.

 



Ilustrasi Peralatan Kateterisasi

Selanjutnya di atas telapak tangan kanan saya dimasukkan peralatan kateterisasi yang akan berjalan melalui aliran darah menuju ke jantung. Bagian sinar X  digeser-geser disesuaikan dengan gambar yang ingin dilihat.  Prosedur kateterisasi tidak begitu lama.  Terakhir, Untuk menutup luka  tangan dibebat menggunakan kayu karena peralatan kateterisasi dimasukan ke pembuluh darah besar.


Gejala Penyakit Jantung

Ketika berbincang dengan pasien jantung lain, saya sering menanyakan gejala yang mereka alami. Katanya “Nyeri dada berat!“ atau “Dada terasa dihimpit dengan benda berat”. Lainnya “Dada terasa seperti ditindih pintu!”. Lain lagi “Dada terasa dihimpit dengan benda berat kemudian sakitnya menjalar kepunggung” “…menjalar ke tangan” dan sebagainya.  

Pikir saya “He he he mereka sudah terkena penyakit jantung berat sedangkan gejala saya cuma nyeri dada sedikit sehingga saya hanya terkena penyakit jantung ringan!” Apakah pikiran saya benar?  Ternyata SALAH, justru saya yang terkena penyakit jantung berat! Terbukti dari hasil kateterisasi jantung.

Hasil Kateterisasi

Keesokan harinya pada, rabu tanggal 18 Des 2019 pagi, bersama visit dokter jantung dr Supono Sp JP ke ruang HCU dibagikan hasil kateterisasi. Di sudut kanan atas map hasil kateterisasi dan map rekam medik saya ditempeli stiker kuning bertuliskan CABG.

Hasil kateterisasi jantung terdiri dari 2 halaman seperti Gambar di atas. Pertama diberi judul “Hasil Koroner Angiogram”.  Terlihat gambar jantung dengan arteri yang memasok darah ke jantung. Arsiran tebal menunjukkan adanya sumbatan  pada arteri jantung. Dapat dilihat keterangan sumbatannya sebesar 80-90%. Dan lebih dari satu arteri yang tersumbat.

Kesimpulan di sudut kiri bawah adalah CAD3VD. CAD (Coronary Artery Disease) dan 3VD (Three Vessel Disease). Artinya adanya penyakit pada arteri koroner dan memiliki sumbatan di 3 pembuluh darah arteri.

Kedua merupakan gambar sebenarnya dari jantung. Terlihat adanya penebalan pada  arteri yang mengindikasikan adanya sumbatan.

Kembali ke stiker CABG. Ini berarti dokter jantung RS Polri menyarankan operasi bypass jantung atau istilah medisnya CABG (Coronary Artery Bypass Graft) atau cangkok pintas arteri koroner.

Dari studi pustaka dapat diketahui operasi bypass jantung disarankan bagi penderita jantung koroner dengan kondisi sebagai berikut:

  • Lebih dari satu pembuluh darah mengalami penyempitan, sehingga bilik jantung kiri tidak berfungsi secara normal. Bilik jantung kiri merupakan ruangan jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh.
  • Arteri koroner kiri utama (left main artery) yang bertugas memasok darah ke bilik kiri mengalami penyempitan dan penyumbatan berat.
  • Mengalami penyumbatan pembuluh arteri yang tidak bisa ditangani dengan pemasangan ring. Kalau sumbatannya dibawah 70%  masih bisa memakai ring tapi kalau 80-90% tidak bisa.

Kata dr Supono “Tingkat keberhasilan operasi CABG di RS Polri tinggi: 99%.” Pikir saya dengan sedih “Berarti yang 1% telah menghadap Yang Kuasa!”

Operasi CABG  adalah prosedur pembedahan yang bertujuan untuk menghilangkan penyumbatan arteri koroner dan memaksimalkan aliran pembuluh darah. Caranya membuat saluran baru melewati arteri koroner yang mengalami penyumbatan melalui pencangkokan pembuluh darah lain.  

Operasi CABG

Persiapan Operasi CABG

Hampir 1 ½ bulan saya mondar mandir (sudah kayak setrikaan) ke RS Polri guna menjalani persiapan untuk CABG. Baik melakukan pemeriksaan maupun konsul ke dokter spesialis lain.

Tiga hari kemudian saya ke poli Jantung di RS Polri lagi dan menemui  dr. Dewi Maria Ulfa, B.Med SC. Sp. JP. Kata beliau “Kondisi Anda ibaratnya seperti orang yang membawa bom waktu, setiap saat bisa meledak dan berakibat fatal!”

Pikir saya ngeri “Seumur hidup saya belum pernah kolaps atau mengalami serangan jantung. Tetapi begitu mendapat serangan mungkin wes ewes ewes bablas nyawane!, lagi  menghadap Yang Kuasa!”

Lanjut Dr Dewi “Untuk operasi CABG perlu konsul ke poli syaraf, poli THT, poli paru, poli dalam dan poli gigi.  Poli paru membawa hasil rotgen dada. Untuk konsul urutannya bebas tetapi saya sarankan poli gigi diletakkan pada urutan terakhir karena biasanya pertemuannya  lebih dari satu kali.“

Saya bertanya “Apakah bisa dalam satu hari konsul ke dua poli?”

Jawab Dr Dewi “Tanya ke bagian pendaftaran.”

Belakangan ketika bertanya pada bagian pendaftaran “Kalau BPJS hanya boleh 1 poli  dalam satu hari tapi kalau membayar sendiri, boleh lebih dari 1 poli”.  Ternyata ini telah diatur dalam peraturan BPJS.

Konsul kepanjangnya adalah konsultasi. Ini definisi dengan kata-kata saya sendiri yaitu meminta persetujuan dokter spesialis lain bahwa pasien diijinkan untuk menjalani operasi CABG karena tidak ada kondisi yang memberatkan.

Konsul dan pemeriksaan saya lakukan dengan anjay eh maaf maksudnya santuy aja, biar tidak terlalu capek. Dalam seminggu datang ke RS Polri dua kali.  Dan ternyata kata dr Dewi betul untuk poli gigi menghabiskan waktu paling banyak yaitu 3 minggu untuk 6 pertemuan. Ada 5 gigi geraham atas yang dicabut. Satu pertemuan untuk satu gigi yang dicabut. Dan di pertemuan terakhir dilakukan pembersihan karang gigi.

Syarat operasi CABG saya rangkum dalam skema berikut:

Syarat Operasi CABG

Pemeriksaan EKG (Electrocardiogram)

Pemeriksaan ini akan menunjukkan seberapa kuat jantung berdetak dan keteraturan ritme, apakah stabil atau tidak. EKG adalah pemeriksaan sederhana yang menunjukkan aktivitas kelistrikan jantung. Melalui pemeriksaan EKG akan diketahui seberapa cepat waktu yang ditempuh oleh aliran listrik saat menjelajahi setiap bagian jantung.  EKG juga bisa digunakan untuk memeriksa jika terdapat kerusakan pada jantung.

Tiap kali berkunjung ke poli jantung RS Polri, biasanya ada pemeriksaan EKG.

Echocardiogafi

Melalui tes ini, dokter bisa mengetahui ukuran dan bentuk jantung pasien, termasuk kondisi bilik dan katup. Cara kerja alat ini adalah dengan memanfaatkan gelombang suara menghasilkan gambar bergerak dari jantung. Echocardiografi juga bisa memetakan daerah aliran darah yang jelek menuju jantung, otot jantung yang manakah yang tidak normal, atau cedera pada otot jantung yang disebabkan oleh aliran darah yang buruk di masa lalu.

Di ruang 1 poli Jantung tedapat alat Echocardiografi sehingga saya hari itu juga diperiksa.

Singkat waktu satu setengah bulan kemudian, setelah semua syarat terpenuhi maka langkah berikutnya adalah penentuan tanggal operasi CABG. dr Dewi meminta saya menunggu pesan WhatsApp dari ruang HCU. Setelah semingguan masuk pesan “Operasi CABG akan dilakukan tanggal 19 Peb 2020 dan masuk rumah sakit pada tanggal 18 Peb 2020 siang. Obat pengencer darah dihentikan 5 hari sebelum operasi”

Operasi CABG
Hari Pertama
Selasa tanggal 18 Peb 2020  siang, saya dibawa dari poli jantung ke kedalam ruang perawatan HCU. Terasa familiar karena saya pernah menginap sebelumnya waktu kateterisasi jantung.
Hari pertama adalah masa orientasi. Pada sore hari diambil darah untuk cek laboratorium. Pada dada dipasang alat yang terhubung ke monitor jantung.
Pakaian saya diganti dengan seragam dari rumah sakit dan selama 7 hari di ganti tiap hari. 
Anggota keluarga menerima pesan wa untuk menyiapkan: Pisau cukur 3 buah, pampers dewasa 1 boks, air aqua 1,5 liter sebanyak 3 buah. Sabun mandi cair, bantal kecil, minyak kayu putih, waslap dan perlengkapan pribadi seperti handuk dan sikat gigi.
Juga diminta menghubungi PMI terdekat karena membutuhkan satu kantong darah.

Hari Kedua
Rabu Tanggal 19 Peb 2020 merupakan hari yang sibuk untuk persiapan dan pelaksanaan operasi.
Pagi hari mendapat kunjungan dari dr Arinto Bono Adji SpBTKV(K) spesialis bedah thorak kardiak vaskuler yang berasal dari Rumah jantung terbesar di Indonesia, RS Harapan Kita Jakarta. Jadi untuk melakukan operasi bypass jantung dokternya spesialis bedah thorak dan by the way, ngomong-omong sekolahnya lebih lama dari dokter spesialis lainya. Kalau spesialis lain umumnya 4 semester dari dokter umum. Sedang spesialis bedah thorak 10 semester alias 5 tahun. 
Sambil beramah tamah saya mengajukan pertanyaan yang bermutu dikit “Teknologi pembedahan apa yang akan digunakan apakah on-pump atau off-pump?”
Jawab dr Bono “Kita sudah menggunakan teknologi off-pump sehingga tidak perlu  mesin bypass jantung-paru”
Pada on-pump, selama operasi, jantung akan berhenti berfungsi dan digantikan oleh mesin bypass jantung-paru untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Sedangkan prosedur operasi bypass baru yang dikenal dengan sebutan off-pump, mesin bypass tidak digunakan. Jantung pasien diperbaiki saat masih berdetak.
Sebetulnya saya juga ingin bertanya apakah gergaji listrik yang digunakan bentuknya seperti Gambar di depan, tetapi karena waktu itu gambar ada di hp, sedang hp sedang dicas diluar, maka tidak jadi.
Setengah jam  kemudian saya mendapat kunjungan dari dr Yudi Hadinata Sp An KAKV, spesialis anestasi kardiovaskuler, yang bertanggung jawab untuk pembiusan. Beliau meminta saya membuka mulut untuk memeriksa gigi.
Siang hari mulai puasa. Perut dikuras menggunakan obat pencahar dan dilakukan dua kali siang dan sore hari.
Sore rambut dicukur pada bagian kaki, tangan, dada, ketiak dan kemaluan. Pada waktu mandi sore hari disekitar dada diberi zat disinfektan Chlorhexidine 70 %. Terasa agak perih.
Seperti biasanya juga menandatangani dokumen-dokumen yang diperlukan.
Pada jam 18:30 menggunakan kursi roda diantar ke ruang operasi. 

Ilustrasi Suasana Ruang Operasi

Umumnya operasi CABG berlangsung selama 3-6 jam. Dan operasi saya menurut dokumen Laporan Operasi  dilakukan jam 18:40 sampai 22:10. Memakan waktu 3 jam 30 menit.
Ketika masuk ruang operasi terlihat tim dokter dan perawat menggunakan pakaian operasi hijau tua. Peralatan yang digunakan tidak terlihat karena masih  ditutupi dengan kain hijau tua. dr Bono menemui saya kemudian dilanjutkan dengan dr Yudi, yang memasukkan selang bius melalui infus dari tangan kiri. Selanjutnya dipakaikan masker oksigen untuk bius. Saya dibius total dan segera tak sadarkan diri.
Dan ketika sadar, saya sudah berada diruang ICU. Karena itu untuk merekonstruksi proses yang terjadi selama saya tak sadarkan diri akan saya ambil dari dokumen Laporan Operasi dan tinjauan pustaka. Dari situs Web myheart.net terdapat artikel “Heart Bypass Surgery Explained In Incredible Pictures” yang ditulis oleh dr Mustafa Ahmed yang saya ambil sebagai rujukan.
Dari dokumen Laporan Operasi,Diagnosis pre-operatif dan post-operatif: CAD3VD Nama/Macam Operasi: OPCAB x3. Artinya Off-Pump Coronary Artery Bypass. x3 berarti ada 3 pembuluh darah yang akan dicangkok.
 
Jalannya Operasi

Memotong Kulit Sampai Tulang Dada

Langkah pertama operasi bypass jantung adalah memotong kulit pada dinding dada untuk menampilkan tulang dada. Alat yang digunakan adalah scalpel atau pisau listrik. Pisau listrik akan memotong lapisan superficial (tidak dalam) kemudian ke lapisan yang lebih dalam sampai tulang dada.

Memotong Kulit Sampai Tulang Dada

Mengergaji Untuk Membuka Tulang Dada

Operasi bypass jantung adalah operasi jantung terbuka sehingga jantung perlu diekspos. Dalam kasus ini operasi bypass dilakukan dengan menggergaji melalui tulang dada dalam teknik yang dikenal sebagai sternotomy median. Gergaji listrik dirancang khusus digunakan untuk ini.

 

Mengergaji Tulang Dada

Mengambil Vena Tungkai

Pembuluh darah yang digunakan sebagai cangkokan bisa diambil dari dada (arteri mamaria interna), tungkai kaki (vena safena), atau pergelangan tangan (arteri radialis). Pada saya diambil dari tungkai kanan dan kiri istilahnya SVG (Saphenous Vein Grafts) atau cangkokan vena safena. Teknik pengambilan vena yang digunakan dalam Gambar berbeda dengan yang saya alami. Terlihat dari luka bekas operasinya.  




Mengambil Vena Tungkai

Membentangan Tulang Dada

Suatu retractor (alat pembentang) kemudian ditempatkan untuk menahan bagian tepi untuk membuat daerah kerja.

Membentangkan Dada

Menyiapkan Jantung Untuk Bypass

Heparin untuk pengencer darah diberikan guna mencegah terjadinya pembekuan darah. Menyiapkan vena yang akan digunakan dalam bypass.

Menyiapkan Vena

Melekatkan Bypass

Arteri tersumbat yang akan dilakukan bypass secara hati-hati diamati. Kemudian cangkokan bypass akan dilekatkan. 

Secara OPCAB/off-pump,  jantung pasien diperbaiki saat masih berdetak, dilakukan cangkokan. Ada tiga cangkokan yaitu:

  • LIMA (Left Internal Mammary Artery) ke LAD (Left Anterior Descending).
  • SVG ke PDA
  • SVG ke OM2


Masing-masing proksimal SVG ditransformasikan ke pangkal aorta Ascendent

Bagian diatas saya kutip dari tulisan tangan dr Bono di Laporan Operasi.

Jadi SVG ke PDA artinya pembuluh darah cangkokan ujung satu ditempelkan pada pangkal aorta Ascendent dan ujung lainnya ditempelkan pada PDA (Patent Ductus Arteriosus)

Sedang SVG ke OM2 artinya  pembuluh darah cangkokan ujung satu ditempelkan pada pangkal aorta Ascendent dan ujung lainnya ditempelkan pada OM2 (second Obtuse Marginal branch, cabang marginal tumpul kedua)

Ujung pembuluh darah cangkokan dijahit pada tempat menempel seperti pada Gambar ilustrasi di atas. Nylimet!



Ekspos Arteri Tersumbat Dan Melekatkan Bypass


Jantung Berdetak Dengan Bypass Dilekatkan


Menjahit Tulang Dada, Menutup Kulit Dan Membuat Selang Dada

Sternum (tulang dada) dijahit dengan kawat baja. Luka operasi ditutup lapis demi lapis.  Dibuat saluran pembuangan berupa selang dada untuk membuang sisa darah operasi. Pada Gambar dibuat 2 selang dada kiri dan kanan. Pada saya hanya ada 1 selang dada ditengah.

Menjahit Tulang Dada, Menutup Kulit Dan Membuat Selang Dada


Hari Ketiga Dan Keempat

Menurut catatan perawat saya dipindah dari ruang operasi ke  ICU (intensive Care Unit, Ruang Perawatan Intensif), hari rabu tanggal 19 Peb jam 22:30. 

Ilustrasi Di Ruang ICU

Ruang ICU berbentuk aula dengan pintu utama terhubung langsung dengan ruang operasi. Terdapat 4 bed dan monitor jantung yang lebih besar dan bagus daripada ruang HCU. Di depan kiri terdapat tempat untuk perawat  dan disebelah kanan untuk menyimpan peralatan misalnya rotgen dada dan Echocardiografi. Selama di ICU pasien tidak boleh dijenguk. Pada jam bezuk, pasien dapat dilihat melalui jendela yang dibuka kerainya.

Kamis, tanggal 20 Feb, sekitar jam 2 pagi saya mulai sadar.  Ada empat macam infus yang dimasukkan ke tubuh. Terpasang monitor jantung. Terdapat selang dada untuk membuang darah sisa operasi. Untuk bernafas dibantu dengan alat bantu pernafasan berupa selang oksigen.  Dipasang kateter ginjal untuk kencing. Bekas operasi di dada ditutupi dengan semacam tensoplast besar.
Saya sadar tapi terasa mengantuk berat. Ini pengaruh dari obat pereda rasa sakit yang diberikan setelah operasi yaitu morfin. Betul! saudaranya ganja dan heroin, tentu saja, morfin yang digunakan untuk medis.
Paginya setelah dibersihkan saya SABU. Sarapan bubur.
Terasa seperti pasien VIP ala BPJS karena saya satu-satunya pasien ditengah 4 perawat. Ada satu perawat yang menarik perhatian saya karena seragamnya beda. Ketika saya tanya dia berasal dari RS Harkit (Harapan Kita).
Kata saya “Sebetulnya saya tertarik untuk operasi CABG di Harkit, tapi karena pasien Harkit dari seluruh Indonesia, saya khawatir dengan waktu tunggu yang lama, katanya bisa berbulan-bulan!”
Balas perawat tersebut “Di Harkit terdapat 12 ruang operasi dan satu hari biasanya melakukan 14 operasi CABG!”. Waah rame!    
Siang menjelang sore saya mendapat visit dr Dewi. Kata dr Dewi “Karena kondisinya bagus, maka besok bisa kembali ke ruang HCU”. Setelah mengecek selang dada “Darah sudah berhenti mengalir, besok selang dada bisa dicabut”. 
Menggunakan alat Echocardiografi, dr Dewi mencoba melihat jantung. Katanya “Jantung tidak terlihat dengan jelas karena masih ditutupi darah”.
Jumat tanggal 21 Pebruari 2020, hari kedua diruang ICU.  Selang Infus dicopot. Siang hari datang dokter, maaf saya lupa namanya, panggil saja dr X. dr X ini berasal dari RS Polri dan mengaku asisten dr Bono. Pria agak gemuk ini akan mengambil selang dada. Disekitar lubang untuk selang dada diolesi dengan betadine lalu disuntik bius lokal. Kemudian selang dada dicabut. Kata dr X “Benang yang ada tidak perlu dicabut karena akan menyatu dengan daging”.
Sore harinya datang operator rotgen dada. Dulu saya pikir kalau dirotgen dada berarti dibawa dengan kursi roda ke ruang Radiologi yang agak jauh. Ternyata ruang ICU sudah punya peralatan rotgen dada sehingga tinggal memanggil operatornya. Dada dirotgen. Petugas  Fisioterapi datang untuk mengamati.

Hari Kelima Sampai Ketujuh   
Jumat tanggal 21 Pebruari 2020, sore hari saya dipindahkan dari ruang ICU ke ruang HCU. Kembali ke bed yang sama sebelum operasi dipojok kanan bawah.
Tubuh terasa sulit digerakkan. Belajar memiringkan dan  mengangkat badan. Kaki dipakaikan stocking. Tiap hari luka bekas operasi dirawat.
Pada hari terakhir, selasa tanggal 25 Feb 2020, petugas Fisioterapi meminta saya jalan bolak balik di ruang HCU selama 10x. Di dokumen istilahnya “Six minute walk test” dengan jarak sekitar 107 meter. Tidak ada masalah. kateter ginjal diambil. Sore menjelang malam diperbolehkan pulang.   

Biaya
Sobat  missqueen mungkin bertanya dengan cemas bagaimana dengan biayanya?  Di situs Web aldodokter.com disebut  biaya Kateterisasi jantung berkisar 9-50 Juta. Sedang operasi bypass jantung di rumah sakit swasta di Indonesia dimulai 150 juta, Thailand 270 juta dan Singapura 500 juta. Jangan khawatir, pada prinsipnya semua baik kateterisasi jantung dan operasi bypass biayanya dicover oleh BPJS. BPJS saya gratis alias tidak perlu membayar iuran bulanan karena tipe BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran). Siapa yang menanggung biaya? APBD DKI. Provinsi paling kaya se Indonesia gitu lho!

Penutup

Sebetulnya tubuh memberi isyarat ke kita ketika mengalami suatu penyakit. Seperti pada penyakit jantung : Dada merasa tidak nyaman, nyeri didada atau sesak nafas. Jika Anda mengalami hal tersebut jangan diabaikan segeralah periksa kedokter.

Operasi bypass jantung melalui tiga tahap: Persiapan operasi, operasi dan pemulihan. Pada masa pemulihan, setelah pulang  kerumah kurang lebih selama 2 bulan, jangan mengangkat beban yang berat, lebih dari 10 kg.

Apakah operasi bypass jantung sakit? Saya tahu banyak calon pasien yang ketakutan dengan rasa sakit yang akan dialami.  Dada dibelek, tulang dada digergaji dan jantung diobok-obok tentu saja sakit!. Tapi dokter akan mengurangi rasa sakit yang dialami pasien dengan dua cara. Pertama dengan pembiusan,  baik bius total maupun bius lokal. Saya dibius total ketika dioperasi CABG dan bius lokal pada waktu kateterisasi jantung, tiap kali gigi dicabut dan waktu selang dada diambil.  Kedua minum obat pereda sakit, setelah operasi  diberi obat pereda sakit berat yaitu morfin, berikutnya sehari tiga kali saya minum obat paracetamol. Sedang dari dokter gigi diberi ponstan.

Kalau rasa sakit diberi skala penilaian dari 0 sampai 10 dimana 0 tidak sakit sama sekali dan 10 sakit berat tak tertahankan, pastikan rasa sakit yang dialami skala tiga atau kurang. Alhamdulillah, Puji Tuhan saya belum pernah mengalami rasa sakit yang berat jadi masih skala 3 atau kurang sehingga masih bisa menanggungnya.


Ucapan terima kasih yang tulus untuk semua dokter, perawat, paramedis dan staf yang telah berperan dalam operasi saya khususnya dr Arinto Bono Adji yang telah menjalankan operasi dengan sukses.
 
 
*Ario Suryo Kusumo
Praktisi TI, pernah jadi guru Biologi SMA.

 

oooOOOooo